Rabu, 18 Mei 2016

Hanya Mengutip Kata

"Kita menutup mata saat bermimpi, mengkhayal, berimajinasi, berangan-angan. Tahu kenapa? Karena memang semua hal yang indah di dunia memang tidak terlihat."
-- Anonim --

"Berilah ia ikan, maka kau telah memberikannya makan untuk satu hari. Ajarilah ia cara memancing, maka kau telah memberikannya makan seumur hidup."
-- Lao Tzu --

Kamis, 12 Mei 2016

Tuhan Telah Mati

Aku menyaksikan tuhan telah mati

ia tak lagi meliputi seluruh keadaan
pertanda-nya kian jauh akan menjadi kosa kata yang langka
oleh sebab tertutup rapi, dalam mata, sebuah sosok persona
nun jauh disana
Ia telah mati dalam ba-ha-sa yang memisau. Tajam.

Aku menyaksikan tuhan telah mati

tuhan telah mati dalam doa bersama jelang UN
juga dalam taruh-bertaruh para calon sarjana, dan mereka
menerima untuk lupa, ditinggal norma
yang penting masuk sekolah ternama ataupun IPK diatas tiga
Adakah yang lupa dengan yang mahabaik, ketika
tengah dinaung ujian semester ataupun ujian akhir yang amat pelik?

Aku menyaksikan tuhan telah mati

tuhan telah dimatikan dalam diri para manusia sibuk
oh sekiranya barzah adalah rumah paling tak laku
dalam idam-idam para anti-suntuk.
Terlupakah ia, bahwa "ia" adalah maha pencemburu?
ia tak suka membandingkan gaji, dengan diri-nya
          --yang maha memberi rezki

Aku menyaksikan...

Aku menyaksikan tuhan telah mati!
tuhan telah mati, dan kita semua yang telah membunuh-nya.



2016
catt: karena sajak ini, jangan anggap saya atheis ataupun murtad


Mesin Waktu

Sekiranya, aku pikir, alangkah banyak orang yang terperangkap pada jerat penyesalan sehingga muncul saja keinginannya untuk kembali kepada masa lalu untuk mengubahnya. Bagiku cukup manusiawi jika ada yang sampai berpikir demikian. Tapi, adakah sesuatu hal yang dapat mengembalikan kita ke masa lalu? Jawabannya ada. Sebuah alat yang amat populer diperbincangkan namun tak pernah ada sampai sekarang: Mesin Waktu

Begitupun denganku, aku pun sempat berpikir ingin kembali ke masa lalu. Namun, seandainya boleh untukku memamerkan pertanyaan serta jawabanku, perkenankanlah.

Jika sekiranya memang ada mesin waktu, maka apa yang akan kauubah di masa lalu? Dan aku akan menjawab: Tidak ada!

Aku memang ingin kembali ke masa lalu, tapi tak satupun yang akan kuubah dari masa yang telah lalu itu. Karena kupikir, apa yang telah membuatku bisa menjadi seperti ini? Dengan dada yang penuh dengan pengalaman seperti ini? Semua pencapaian diri? Itu semua karena seluruh hal yang telah aku alami di masa lalu. Dan aku akan mengubah masa lalu berharap akan mengubah masa depan pula? Bzz... Aku pikir disitulah sebuah titik dimana hidup jadi tak menyenangkan. Bukankah sebaik-baik guru adalah pengalaman? Dan kau ingin membunuh gurumu? Murid macam apa kau? Hahaha...

Aku rindu, dan ingin kembali ke masa lalu. Ada beberapa potret masa lalu yang telah aku lupakan, dan aku ingin mengingatnya kembali, sebab rindu ini kadang tak terperi. Ingin sekali melihat temanku dengan usia anak-anaknya. Aku ingin kembali bermain dengan mereka sebagai anak-anak desa. Bermain, kemudian menangis, lalu tertawa, berkelahi, kemudian berdamai kembali. Kemudian merasakan yang namanya cinta pertama dan tidak lupa juga cinta monyet. Pertama kali belajar menyetir, belajar ini dan itu. Merasakah patah kemudian bangun lagi. Rasa-rasanya perasaan ini absurd sekali bahkan untuk dituangkan dalam cawan puisi. Nostalgia memang selalu menyenangkan.

Sabtu, 07 Mei 2016

Untuk Penggiat Kampus

Masih terniang-niang dalam pikiran tentang anekdot yang amat populer di kalangan akademika yang muncul ketika mengingat peristiwa tahun 1998:

Mahasiswa takut sama Dosen --> Dosen takut sama Dekan --> Dekan takut sama Rektor --> Rektor takut sama Menteri --> Menteri takut sama Presiden --> Presiden takut sama Mahasiswa.


Sepertinya kebanyakan kampus dewasa ini hanya akan menciptakan para mesin sesuai blueprint yang direncanakan, bukan menciptakan manusia. Kegiatan akademik semakin diperketat membabibuta menutupi kegiatan kemahasiswaan. Semakin berbondong-bondong orang-orang bilang bahwa attitude lebih berharga dibanding skill, namun sepertinya ini hanya akan menjadi utopia bagi mereka yang tengah menjalani pendidikan tingkat perguruan tinggi.

Tan Malaka pernah mengatakan pula bahwa idealisme adalah hal paling berharga yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemuda (a.k.a Mahasiswa). Namun, kenyataannya saat ini kaum tersebut semakin digiring untuk menjadi sosok realistis yang malah terbentuk menjadi apatis. Membuat kegiatan atau aksi pergerakan semakin tertekan. Nyaris hilang.

Hanya mementingkan nilai A atau B, tanpa mengasah softskill yang seperti diumbar-umbar.

“Hari ini rezim tak perlu militer untuk menjinakkan perlawanan dari kampus, cukup mengetatkan waktu studi dan sederet peraturan akademis cemen untuk merubah mahasiswa menjadi kambing. Aktivisme politik mereka hari ini paling banter menjadi cunguk elit para alumnus/senior mereka yang bertebaran jadi pedagang politik di luar sana.” -- Morgue Vanguard (Ucok Homicide).

Jumat, 15 April 2016

Menjadi Penyair

"Aku ingin melihatkanmu puisi, yang tintanya
berwarna merah muda, untuk aku tunjukkan
pada bakal kekasih,”

bagimu: puisi menuai kata mesra
bagiku: puisi menuai dunia

“Aku ingin belajar menulis puisi, agar besok
bisa kudapatkan satu kalung bunga saja,
selingkar saja.”

Sebelum tinta milik abang terus diperam
ingin sekali aku melihatmu menangis
tanpa mata yang perih
ingin sekali aku melihatmu tertawa
tanpa rahang yang nyeri
ingin sekali aku melihatmu melihatr
tanpa mata yang sepi

Dan, kau kulihat-lihat, semakin dekat, mengikis sekat,
mendustai batin dan perasaan adalah perkara gamblang.

“aku sedang ingin menjadi penyair,” katamu
“kau sedang ingin menjadi penggombal,” kataku



Lubuk buaya, 2015

Sepilihan Sabda

Saya termasuk orang yang akan mengatakan “Iya!” apabila ada yang mengatakan bahwa saat ini Malaikat Jibril masih bekerja dan tidak berhenti ketika habis masa kenabian. Sebab Jibril tidak hanya menyampaikan wahyu, melainkan juga inspirasi (ide) bahkan hidayah.

Begitu banyak manusia. Maka, tidak perlu jauh-jauh untuk mengambil sepatah dua patah kata untuk kita jadikan panutan dalam hidup. Sebab, masih ada kemungkinan tertimbun emas di dalam tanah busuk. Berikut ini adalah kata-kata yang pernah diucapkan oleh orang-orang yang pernah saya temui, dan saya mengambil pelajaran dari yang terucap olehnya.

----------------------------------------------------

Bu Lian (Guru SD saya)
“Sesombong-sombongnya orang pintar adalah mereka yang tidak pernah mau belajar dari yang dibawahnya.”

Bima (Teman SMA)
“Hidup ini jangan dibawa repot. Lepaskan saja! Biar ugal, yang penting tidak kurang ajar.”

Pak Zulkarnaini (Kepala sekolah waktu SMP)
“Jangan sampai karena demi kegiatan sekolah, ananda menjadi durhaka pada orangtua.”

Bang Ian (Senior di kampus)
“Di dunia ini tidak ada yang namanya orang baik, karena kita semua sedang menuju kesana.”

Yunus (Teman SMA)
“Jangan takut! Karena cuma orang idiot yang berani mencaci-caci karya seni.”

Bang Fadil (Senior di kampus)
“Kita boleh merasa hebat, tapi jangan sampai meremehkan tanggungjawab.”

Pak Pinto (Tetangga rumah)
“Kau itu sudah terlahir sebagai orang hebat, sekarang tinggal bagaimana kau menunjukkannya.”

Bang Cahyo (Senior di kampus)
“Jika bercarut-marut bisa menenangkan diri yang sedang panas, maka bercarut saja!”

Bu Tio (Guru SD saya)
“Sampai jumpa! Kita akan ketemu lagi saat kalian semua menemui ibu dengan pakaian berdasi yang rapi.”

Bu Mardiati (Guru SMP saya)
“Jangan sekali-kali anda membunuh karakter orang dihadapan saya!”

Bang Galih (Kakak kelas SMP)
“Hati senang ketika rokok sudah di tangan.”

Sukir (Kenalan saat Festamasio 7)
“Aku benci sekali ketika temanku menyerah. Jadinya aku kehilangan kesempatan untuk menjadi temannya orang hebat.”

Randhika (Teman SMA)
“Omong kosong paling besar yang saya dengar adalah tentang tidak semua hal bisa dibeli dengan uang.”

Bu Net (Dosen di kampus)
“Ibu baru bisa mengatakan mahasiswa itu cerdas ketika ia aktif bukan cuma di kelas saja, melainkan juga di organisasi.”

Bang Angga (Senior di kampus)
“Orang yang hatinya keras, memiliki pribadi yang keras pula, biasanya menyimpan kesedihan yang mendalam.”

Ari (Teman SMA)
“Jika ada orang yang mengatai saya dengan sebutan ‘binatang’, setidaknya saya lebih mulia dari dia yang seenaknya saja menyebut anak orang dengan sebutan ‘binatang’.”

Almarhum Papa (Sahabat pertama saya dalam hidup)
“Nanti kalau Agung sudah besar, kita beli tanah pakai uang kita berdua, terus kita bikin pondok disana.”

Almarhumah Mama (Cinta pertama saya dalam hidup)
“Jadilah orang ya, nak. Mama tidak menyangka kamu sudah mama besarkan sampai sekarang ini.”

Dan masih banyak lagi. Namun, untuk sementara waktu, inilah yang bisa saya tuliskan terlebih dahulu. Sebab, kalimat-kalimat inilah yang paling saya ingat sampai sekarang. Terimakasih untuk mereka, bersyukur sekali saya bisa sempat berkenalan dengan kalian.

Pulang Kepada Diri

Sejak lahir dari harap-harap cemas ibu
kita tidak pernah diajar bagaimana mengendus nasib
barangkali belum.

Sebab, sejak tangan ibu masih lihai meranumkan hidangan
tidak semua kumakan, tidak semua kutelan;
kecuali yang ada di air mata, pada darahnya.

Sebab, keluar rumah bukan untuk memakai lidah ibu
sebab, keluar rumah bukan untuk kembali melihat bekas jari ibu
sebab, keluar rumah adalah untuk esok pulang menemui ibu

Pandai diajari:
dicerca
Pandai sendiri:
terluka

Sebab, sebelum tersasar
ternyata kita sudah besar.


Lubuk buaya, 2015

Memampukan Mimpi!

Salam!

Saya disini tidak akan berolok-olok dengan mengatakan bahwa mimpi itu adalah harta yang sangat penting. Berlebihan? Baiklah, saya akan menyebutnya sebagai anugerah semesta. Masih berlebihan? Saya tidak tahu lagi harus menyebut apa. Masing-masing kita pasti akan berbeda pandangan dalam melihat mimpi atau mari kita sebut saja sebagai ‘impian’. Tapi, berani saya jamin, dan tanpa paksaan, kita harus sepakat bahwa masing-masing diri kita pernah mempunyai sebuah mimpi, bukan? Ya. Untuk itulah kita disebut sebagai manusia. Manusia selalu menggantungkan mimpinya, untuk dipetik dikemudian hari.

Pertanyaannya sekarang, sampai seberapa sanggupkah kita dapat memetik mimpi yang masih tergantung itu?

Baiklah. Mungkin sebagian dari kita ada yang tahu bagaimana rasanya hati yang terkurung, terkekang dirinya oleh impian orang lain di sekitarnya, kemudian mengejar impian adalah seperti berjalan di labirin panjang. Adakah orang seperti itu? Ada. Maaf dengan frontal saya menyebut, itulah orang yang cita-citanya tidak ditanam oleh dirinya, melainkan dipaksa keluarga. Yang seperti ini biasanya adalah mereka yang dipaksa untuk menjadi orang lain. Tapi, ini bukanlah hasutan dari saya bahwa orang tua adalah sosok yang mesti dilawan. Mereka juga manusia. Kecuali jika mereka tidak punya perasaan yang manusiawi. Pada kasus ini, biasanya mereka takut sekali untuk meyakinkan orangtuanya karena berbagai kondisi dan hal. Semisal, seorang anak yang sangat tekun dan mahir di bidang Sains malah dipaksa oleh orangtuanya menjadi Bussinesman yang kebetulan orangtuanya adalah Pemilik sebuah perusahaan. Atau sebaliknya. Tidak hanya orangtua. Berani saya katakan, kalangan guru di sekolah pun kebanyakan (berarti tidak semua) juga begitu. Bahkan menyuruh muridnya untuk memilih zona aman ketimbang mengambil resiko demi meraih impian-impian yang sudah tersusun rapi di kepala mereka.

Dalam sebuah novel tulisan J.S. Khairen yang berjudul “Bunda Lisa” yang merupakan sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata, disana terselip kisah tentang Bunda Lisa itu sendiri yang hendak menyekolahkan anaknya ke TK di Amerika, tepatnya di Illionis. TK tersebut bernama CDL (Child Development Laboratory) yang dikelola langsung oleh Universitas Illionis. Singkatnya, dalam novel tersebut, seorang guru dalam TK tersebut tidak mengarahkan anak muridnya untuk pintar dalam pengetahuan umum. Itu adalah prioritas keduanya. Prioritas pertamanya adalah memberi ‘peta’ dan ‘senter’ kepada anak-anak tersebut untuk menemukan dimana bakat dan keahliannya. Bahkan yang menjadi guru bagi anak-anak TK tersebut adalah para Professor. Dalam novel ini, amat kentara sekali perbedaan antara orangtua dan anak dari segi latar belakang pendidikannya. Suami Bunda Lisa adalah seorang Professor bidang ekonomi. Anaknya? Anak-anak mereka justeru memilih jalannya sebagai seniman. Dan mereka sukses. Mereka dibayar atas apa yang mereka senangi. Orang-orang bilang itulah pekerjaan yang terbaik: Hobi yang dibayar.

Duhai jiwa yang letih
yang masih berjalan kaki, tersesat di rimba langkah kaki
Engkau yang tadi menjinjing tikar mimpi
Engkau berlari sebab sebuah tikar mimpi dibawa lari.
O, beranikanlah diri.

Oke, mungkin masalah orangtua selesai. Sekarang yang menjadi permasalahan adalah: Keuangan. Mereka yang hidup sebagai orang yang tidak berkecukupan. Ada juga sebagian mereka yang terpaksa mengubur impiannya karena impian tersebut dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Contohnya saja menjadi pemain bola. Saya jadi ingin bertanya kepada kawan-kawan pembaca sekalian, sudahkan kalian temui orangtua yang dengan senang hati tanpa menggerutu merelakan anaknya mengejar impian menjadi pemain bola? Saya bertanya demikian sebab saya tidak menemukannya. Semoga kawan-kawan pembaca sudah ada yang menemukannya.

Abdurrahim Arsyad dalam stand up comedy-nya pernah bilang bahwa hampir mustahil untuk negara kita, negara Indonesia, untuk ikut serta dalam ajang Piala Dunia. Sampai-sampai muncul anekdot darinya “Indonesia baru bisa masuk Piala Dunia kalau Kura-kura sudah bisa manjat pohon” atau yang lebih parahnya lagi dia juga beranekdot “atau indonesia baru bisa masuk piala dunia jika sudah ada komodo yang jadi astronot. Kemudian demi hal itu, PSSI mulai melatih Komodo untuk dikirim ke NASA.”

Masih banyak penduduk miskin di negara ini. Kemiskinan membuat mereka membunuh mimpi. Sampai-sampai masih dalam stand up comedy-nya Abdur pernah berpengalaman bahwa ketika dirinya bertanya kepada anak-anak desa tentang apa cita-citanya ketika sudah besar ini, kebanyakan diantara mereka malah menjawab bahwa mereka tidak ingin muluk-muluk, mereka ingin menjadi petani atau nelayan saja seperti orangtuanya. Dan pada akhirnya, sekejam apa negara kita sampai anak sekecil itu saja tidak berani untuk bermimpi? Sekejam apa?

Duhai jiwa yang dikepung keadaan
sampaikanlah pada pelita di meja belajar
pada rumput pijakan di tanah lapang yang lebar
bahwa sekiranya
Langit pun bermuram durja, melihat anak-anak yang menikmati hujannya
Tak lagi bernafsu membuat khayalan menjelma nyata.

Kejarlah mimpimu, kawan. Tebas zona nyaman! Saya disini bukanlah dan memang tidak ingin sok pintar bahkan menjadi motivator ulung bagi kawan-kawan pembaca sekalian. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa alangkah indah hidup jika kita berpijak, tidur, mandi, sampai makan dari hasil keringat kita bersama mimpi kita sendiri. Perjuangkanlah mimpi. Jangan menjadi sekedar hiasan dalam khayalan. Beranilah untuk terluka. Raihlah! Sebab Seno Gumira Ajidarma pernah berkata pula bahwa Seberapa indahkah mimpi, jika tetap mimpi?

Jujur saya disini adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum di salah satu universitas ternama di Sumatera, dan malahan ingin menjadi seorang penulis. Penulis di bidang sastra pula, bukan penulis literatur hukum. Tapi, saya tetap berusaha sajalah. Tidak ada kata terlambat. Sebab saya mengambil satu kutipan yang telah saya aminkan bahwa saya tidak pernah takut jika esok hari saya gagal meraih impian saya, justeru yang saya takutkan adalah impian itu sudah tumbuh subur di kepala saya dan saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk berusaha meraihnya.

Teruslah gumamkan impianmu. Ajak dia kedunia nyatamu. Terus gumamkan sebab, impian = doa.

Tinggalkan kesedihanmu, bawalah semangatmu! Tinggalkan kepasrahanmu, seret keberanianmu! Mimpi akan menyihirmu menjadi mampu. Mimpi akan membawamu jauh. Dia akan mengajarkan arti sebuah “rumah” yang kan terasa indah di kala raga ini menjauh.

Sekian tulisan saya. Maaf jika terkesan sok tahu.

Salam!

Kamis, 14 April 2016

Melupakan

Hari ini sebungkus cerita yang berpita merah pulang ke lembah
menunggu sisa-sisa ampas kertas mati dirajam tanah

"O, sungai, berikanlah cerita sebelum maut merekah!"



2015 

Minggu, 27 Maret 2016

Novel: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Judul: Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2013
Tebal: 240 Halaman

Sinopsis:

Ada surat panjang yang terlambat sampai. Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan.
*
Sejak kecil kita berdua merasa diri kita adalah alien-alien yang tersesat ke Bumi.

Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu sampai di beranda rumah.

Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan kulakukan.

 Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.

Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu.

Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya
*
Surat-surat itu menarik pria itu ke masa lalu. 
Hingga ia tahu, semuanya sudah terlambat.

------------

Inilah buku yang memutarbelokkan niat saya untuk mencari buku puisi di Toko Buku Gramedia. Bukan, bukan karena label prestasi buku yang memenangkan sayembara dari DKJ, melainkan judulnya yang cukup panjang untuk ukuran judul novel. Terlebih lagi, ketika saya menelusuri tentang penuisnya melalui google sebelum membawa ini ke kasir, buku ini ditulis oleh seorang wanita yang masih muda. Yang berarti beliau masih berusia sekitar 22 tahunan ketika menjuarai sayembara ini, masuk dalam 5 besar nominasi Khatulistiwa Literary Award pula. Pujian dari saya untuknya.

Seorang gadis yang "menggadis" di usianya yang hampir empat puluh tahun, masih menaruh rasa cinta yang amat mendalam kepada teman masa kecilnya. Hidup agak urakan, berpegang teguh pada idealismenya, hingga jelang akhir hidupnya tak ada seorang lelaki pun yang tak ia pikirkan walau sehari selain dia, teman masa kecilnya, Si Tuan Alien--begitulah ia memanggilnya. Dia terkurung dalam lingkar kehidupan yang dia anggap amat membosankan. Memiliki prestasi akademik yang gemilang di kampus namun ia sama sekali tak menemukan kehidupan dalam dirinya sendiri. Semua itu mulai dirasakan sejak perpisahannya dengan seorang lelaki yang amat dicintainya itu. Tak ada lagi komunikasi antaranya dan dia, sehingga ia memilih untuk menulis surat dari tahun 2008 hingga 2011. Dalam surat itu ia bicara. Mulanya tentang nostalgia mereka berdua, sampai pada pengalaman dan apa yang terjadi pada pribadinya, hingga tentang sakit keras yang mungkin membuatnya menghitung mundur sisa harinya.

Setidaknya begitulah (amat) ringkas dari isi novel tersebut. Novel ini dibuka dengan adegan dalam mimpi, dan ditutup dengan akhiran yang menggantung. Uniknya, karena cerita disampaikan dengan format 'surat', anda jangan harap untuk menemukan dialog langsung dalam novel ini.

Keunikan lain dalam novel yang ditulis oleh perempuan berkelahiran tahun 1991 ini, sama sekali tidak ditemukan nama-nama tokoh, bahkan tokoh utamanya sendiri. Hanya atribusi-atribusi yang ditemukan: Aku, Tuan Alien, Tuan Pemilik Toko, Gadis Berliontin Naga, Pacarku, Nyonya Pemred, dan lain-lain. Saya sendiri tidak tahu apa motif Dewi Kharisma M untuk tidak menuliskan nama tokoh. Namun menurut saya, inilah yang menjadi suatu keunikan tersendiri bagi saya.

Dari segi pemilihan diksi, dinilai (mungkin) tidaklah ringan. Mungkin ini adalah faktor dari penulis sendiri yang menciptakan tokoh utama dengan latar belakang seorang jurnalis, sehingga untuk kasus ini, hal tersebut cukup menjadi salah satu alasan jikalau novel ini rawan untuk membuat pembaca jatuh bosan, ditambah lagi dengan tempo alur yang lambat. Dan untuk orang seusia Dewi, narasi yang mengandung vulgarisme cukup ... ya ditemukan dalam novel ini. Penulis memang cukup berani dalam menuliskan narasi yang cukup sebegitu dewasanya. Berpaling dari hal demikian, dalam tulisannya di novel ini, dapat diterka bahwa tipe pola pikir si penulis adalah kritis dan memiliki pemikiran yang cukup mendalam.

Oh iya, dalam blog pribadinya dia mengatakan, bahwa dia mengerjakan novel yang akhirnya memenangkan sayembara DKJ dan 5 besar nominasi dalam KLA ini hanya dalam kurun waktu tak lebih dari 18 hari. Fantastis!

Bangkai Surat

Akhirnya aku menyentuh kaca
dengan mata berkaca-kaca

Melihat kerut dahi
menyentuh tangan sendiri

Sunyi, kamarku terlalu rapi
berdebu, tak begitu harum

Dan sepiku bertayamum

“Cinta, aku ingin pulang
sekedar bertukar tanya:
masihkah kaupeduli
atas kabarku?”


(Lubuk buaya, 2015)

Hom-Pim-Pah!

Sore-sore, suara cicit pematok padi semakin berbunyi bahkan lebih luas dari suara bising kaleng orang-orangan sawah yang digoyangkan nenek tua.

Oleh anak-anak, hitam dan putih menjadi nasib meski tidak pekat. Lambaian tangan menjadi salam singgah untuk melompat-lompat, berlari, dan berteriak sekedar untuk berdarah, yang ternyata darahnya serupa tawa untuk mencela permainan apa yang besok tiba.

Pulanglah! Sebab lonceng gereja telah berdentang menyapu darah.
Hom-pim-pah! Yang duluan pulang adalah si nenek tua.


Lubuk buaya, 2015

Novel: Ayah

Judul : Ayah
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Mei 2015
Tebal : 412 halaman + xx
Sinopsis :
"Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya.
Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari kakinya yang mungil. Kalau malam Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika besar nanti.
Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota."
------------
Novelis yang penghasilan satu judul bukunya bisa membuat orang tak berkedip, kini kembali menuliskan sesuatu untuk dibaca masyarakat luas, Andrea Hirata. Setelah melejit sukses dengan tetralogi Laskar Pelangi, Novel yang berjudul Ayah ini dapat sudah dapat dinikmati setiap katanya. Dan latar tempat di Belitong kembali dimunculkan dalam novel terbarunya ini.
 
Novel yang cukup bagus dari penilaian objektif saya. Namun, ada hal yang sedikit mengecewakan. Pada halaman balik sampul, turut dicetak endorsement dari berbagai media dan penulis berbagai negara yang tak lain dan tak bukan ditujukan untuk Laskar Pelangi, bukan Ayah. Tentu saja ini membuat saya mengerutkan dahi, sebab, timbul prasangka buruk dalam kepala saya bahwa apakah Andrea Hirata cukup takut novelnya ini akan kurang populer jika tidak didongkrak dengan hal tersebut. Apa perlu menuliskan testimoni keberhasilan Laskar Pelangi di luar negeri sebagai bumbu penyedap agar novel ini dibeli? Toh, saya pikir tanpa itu pun Andrea sudah memiliki pembacanya sendiri. Tapi, ya sudah lah. Tak apa. Bukan dosa juga, kok.
 
Novel ini rampung saya baca dalam waktu semalam. Masih terasa sekali bau-bau melayu dari dialog dan narasi yang ada. Bercerita tentang seorang berhati mulia nan lugu bernama Sabari yang jatuh cinta pada seorang gadis yang tak pernah sudi menyentuh sedikit saja rasa cintanya, dan gadis itu bernama Marlena. Tentang seorang yang amat teguh untuk cinta pada seorang gadis saja. Sabari sempat menikah dengan Marlena karena suatu insiden. Hanya empat hari kebersamaan mereka selama pernikahannya, Marlena lari entah kemana meninggalkan Sabari dan puteranya dirumah yang kelak dinamai oleh Sabari dengan nama Zorro.
 
Marlena yang sifatnya amat keras kepala dan berprinsip, akhirnya mencari kehidupannya sendiri setelah tak lagi ditegur-sapa oleh ayahnya. Sebelum ia berkelana lebih jauh, akhirnya Marlena menjatuhkan gugat cerai dan mengancam akan mengambil kembali anaknya dari Sabari. Dan akhirnya semua itu terjadi. Sabari amat terjatuh. Terlebih lagi saat Sabari kehilangan Zorro yang telah ia rawat dengan kasih sayang sejak lahir hampir tiga tahun lamanya. Di luar sana, Marlena berkelana ke berbagai provinsi di sumatera dan menikah berkali-kali dengan bermacam pria. Inilah yang membuat Zorro merasakan bagaimana diasuh oleh bermacam Ayah pula hingga ayah terkahirnya yang bernama Amirza. Sementara nun jauh disana, Sabari menggelandang hampir terkena gangguan jiwa lantaran tak tahan berpisah dengan anak yang paling cintainya itu.
 
Tentang ending, bagi pembaca awam mungkin akan terkejut dengan endingnya. Tapi, untuk yang telah sering membaca buku cerita seperti novel dan lainnya, endingnya cukup mudah ditebak. Tokoh di awal-awal cerita dimunculkan namun hilang entah kemana pada tengah hingga jelang akhir cerita.
 
Saya rasa novel ini cukup bagus. Terlebih cerita dalam novel ini dibagi dalam bab yang pendek-pendek, sehingga nyaman untuk dicicil pembacaannya bagi yang sibuk kesehariannya.