Masih terniang-niang dalam pikiran tentang anekdot yang amat populer di kalangan akademika yang muncul ketika mengingat peristiwa tahun 1998:
Mahasiswa takut sama Dosen --> Dosen takut sama Dekan --> Dekan takut sama Rektor --> Rektor takut sama Menteri --> Menteri takut sama Presiden --> Presiden takut sama Mahasiswa.
Sepertinya kebanyakan kampus dewasa ini hanya akan menciptakan para mesin sesuai blueprint yang direncanakan, bukan menciptakan manusia. Kegiatan akademik semakin diperketat membabibuta menutupi kegiatan kemahasiswaan. Semakin berbondong-bondong orang-orang bilang bahwa attitude lebih berharga dibanding skill, namun sepertinya ini hanya akan menjadi utopia bagi mereka yang tengah menjalani pendidikan tingkat perguruan tinggi.
Tan Malaka pernah mengatakan pula bahwa idealisme adalah hal paling berharga yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemuda (a.k.a Mahasiswa). Namun, kenyataannya saat ini kaum tersebut semakin digiring untuk menjadi sosok realistis yang malah terbentuk menjadi apatis. Membuat kegiatan atau aksi pergerakan semakin tertekan. Nyaris hilang.
Hanya mementingkan nilai A atau B, tanpa mengasah softskill yang seperti diumbar-umbar.
“Hari ini rezim tak perlu militer untuk menjinakkan perlawanan dari kampus, cukup mengetatkan waktu studi dan sederet peraturan akademis cemen untuk merubah mahasiswa menjadi kambing. Aktivisme politik mereka hari ini paling banter menjadi cunguk elit para alumnus/senior mereka yang bertebaran jadi pedagang politik di luar sana.” -- Morgue Vanguard (Ucok Homicide).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar