Jumat, 15 April 2016

Sepilihan Sabda

Saya termasuk orang yang akan mengatakan “Iya!” apabila ada yang mengatakan bahwa saat ini Malaikat Jibril masih bekerja dan tidak berhenti ketika habis masa kenabian. Sebab Jibril tidak hanya menyampaikan wahyu, melainkan juga inspirasi (ide) bahkan hidayah.

Begitu banyak manusia. Maka, tidak perlu jauh-jauh untuk mengambil sepatah dua patah kata untuk kita jadikan panutan dalam hidup. Sebab, masih ada kemungkinan tertimbun emas di dalam tanah busuk. Berikut ini adalah kata-kata yang pernah diucapkan oleh orang-orang yang pernah saya temui, dan saya mengambil pelajaran dari yang terucap olehnya.

----------------------------------------------------

Bu Lian (Guru SD saya)
“Sesombong-sombongnya orang pintar adalah mereka yang tidak pernah mau belajar dari yang dibawahnya.”

Bima (Teman SMA)
“Hidup ini jangan dibawa repot. Lepaskan saja! Biar ugal, yang penting tidak kurang ajar.”

Pak Zulkarnaini (Kepala sekolah waktu SMP)
“Jangan sampai karena demi kegiatan sekolah, ananda menjadi durhaka pada orangtua.”

Bang Ian (Senior di kampus)
“Di dunia ini tidak ada yang namanya orang baik, karena kita semua sedang menuju kesana.”

Yunus (Teman SMA)
“Jangan takut! Karena cuma orang idiot yang berani mencaci-caci karya seni.”

Bang Fadil (Senior di kampus)
“Kita boleh merasa hebat, tapi jangan sampai meremehkan tanggungjawab.”

Pak Pinto (Tetangga rumah)
“Kau itu sudah terlahir sebagai orang hebat, sekarang tinggal bagaimana kau menunjukkannya.”

Bang Cahyo (Senior di kampus)
“Jika bercarut-marut bisa menenangkan diri yang sedang panas, maka bercarut saja!”

Bu Tio (Guru SD saya)
“Sampai jumpa! Kita akan ketemu lagi saat kalian semua menemui ibu dengan pakaian berdasi yang rapi.”

Bu Mardiati (Guru SMP saya)
“Jangan sekali-kali anda membunuh karakter orang dihadapan saya!”

Bang Galih (Kakak kelas SMP)
“Hati senang ketika rokok sudah di tangan.”

Sukir (Kenalan saat Festamasio 7)
“Aku benci sekali ketika temanku menyerah. Jadinya aku kehilangan kesempatan untuk menjadi temannya orang hebat.”

Randhika (Teman SMA)
“Omong kosong paling besar yang saya dengar adalah tentang tidak semua hal bisa dibeli dengan uang.”

Bu Net (Dosen di kampus)
“Ibu baru bisa mengatakan mahasiswa itu cerdas ketika ia aktif bukan cuma di kelas saja, melainkan juga di organisasi.”

Bang Angga (Senior di kampus)
“Orang yang hatinya keras, memiliki pribadi yang keras pula, biasanya menyimpan kesedihan yang mendalam.”

Ari (Teman SMA)
“Jika ada orang yang mengatai saya dengan sebutan ‘binatang’, setidaknya saya lebih mulia dari dia yang seenaknya saja menyebut anak orang dengan sebutan ‘binatang’.”

Almarhum Papa (Sahabat pertama saya dalam hidup)
“Nanti kalau Agung sudah besar, kita beli tanah pakai uang kita berdua, terus kita bikin pondok disana.”

Almarhumah Mama (Cinta pertama saya dalam hidup)
“Jadilah orang ya, nak. Mama tidak menyangka kamu sudah mama besarkan sampai sekarang ini.”

Dan masih banyak lagi. Namun, untuk sementara waktu, inilah yang bisa saya tuliskan terlebih dahulu. Sebab, kalimat-kalimat inilah yang paling saya ingat sampai sekarang. Terimakasih untuk mereka, bersyukur sekali saya bisa sempat berkenalan dengan kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar