Minggu, 27 Maret 2016

Novel: Ayah

Judul : Ayah
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Mei 2015
Tebal : 412 halaman + xx
Sinopsis :
"Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya.
Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari kakinya yang mungil. Kalau malam Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika besar nanti.
Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota."
------------
Novelis yang penghasilan satu judul bukunya bisa membuat orang tak berkedip, kini kembali menuliskan sesuatu untuk dibaca masyarakat luas, Andrea Hirata. Setelah melejit sukses dengan tetralogi Laskar Pelangi, Novel yang berjudul Ayah ini dapat sudah dapat dinikmati setiap katanya. Dan latar tempat di Belitong kembali dimunculkan dalam novel terbarunya ini.
 
Novel yang cukup bagus dari penilaian objektif saya. Namun, ada hal yang sedikit mengecewakan. Pada halaman balik sampul, turut dicetak endorsement dari berbagai media dan penulis berbagai negara yang tak lain dan tak bukan ditujukan untuk Laskar Pelangi, bukan Ayah. Tentu saja ini membuat saya mengerutkan dahi, sebab, timbul prasangka buruk dalam kepala saya bahwa apakah Andrea Hirata cukup takut novelnya ini akan kurang populer jika tidak didongkrak dengan hal tersebut. Apa perlu menuliskan testimoni keberhasilan Laskar Pelangi di luar negeri sebagai bumbu penyedap agar novel ini dibeli? Toh, saya pikir tanpa itu pun Andrea sudah memiliki pembacanya sendiri. Tapi, ya sudah lah. Tak apa. Bukan dosa juga, kok.
 
Novel ini rampung saya baca dalam waktu semalam. Masih terasa sekali bau-bau melayu dari dialog dan narasi yang ada. Bercerita tentang seorang berhati mulia nan lugu bernama Sabari yang jatuh cinta pada seorang gadis yang tak pernah sudi menyentuh sedikit saja rasa cintanya, dan gadis itu bernama Marlena. Tentang seorang yang amat teguh untuk cinta pada seorang gadis saja. Sabari sempat menikah dengan Marlena karena suatu insiden. Hanya empat hari kebersamaan mereka selama pernikahannya, Marlena lari entah kemana meninggalkan Sabari dan puteranya dirumah yang kelak dinamai oleh Sabari dengan nama Zorro.
 
Marlena yang sifatnya amat keras kepala dan berprinsip, akhirnya mencari kehidupannya sendiri setelah tak lagi ditegur-sapa oleh ayahnya. Sebelum ia berkelana lebih jauh, akhirnya Marlena menjatuhkan gugat cerai dan mengancam akan mengambil kembali anaknya dari Sabari. Dan akhirnya semua itu terjadi. Sabari amat terjatuh. Terlebih lagi saat Sabari kehilangan Zorro yang telah ia rawat dengan kasih sayang sejak lahir hampir tiga tahun lamanya. Di luar sana, Marlena berkelana ke berbagai provinsi di sumatera dan menikah berkali-kali dengan bermacam pria. Inilah yang membuat Zorro merasakan bagaimana diasuh oleh bermacam Ayah pula hingga ayah terkahirnya yang bernama Amirza. Sementara nun jauh disana, Sabari menggelandang hampir terkena gangguan jiwa lantaran tak tahan berpisah dengan anak yang paling cintainya itu.
 
Tentang ending, bagi pembaca awam mungkin akan terkejut dengan endingnya. Tapi, untuk yang telah sering membaca buku cerita seperti novel dan lainnya, endingnya cukup mudah ditebak. Tokoh di awal-awal cerita dimunculkan namun hilang entah kemana pada tengah hingga jelang akhir cerita.
 
Saya rasa novel ini cukup bagus. Terlebih cerita dalam novel ini dibagi dalam bab yang pendek-pendek, sehingga nyaman untuk dicicil pembacaannya bagi yang sibuk kesehariannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar