Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Mei 2015
Tebal : 412 halaman + xx
Sinopsis :
"Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya.
Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari kakinya yang mungil. Kalau malam Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika besar nanti.
Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota."
------------
Novelis yang penghasilan satu judul bukunya bisa membuat orang tak
berkedip, kini kembali menuliskan sesuatu untuk dibaca masyarakat luas,
Andrea Hirata. Setelah melejit sukses dengan tetralogi Laskar Pelangi, Novel yang berjudul Ayah ini dapat sudah dapat dinikmati setiap katanya. Dan latar tempat di Belitong kembali dimunculkan dalam novel terbarunya ini.
Novel yang cukup bagus dari penilaian objektif saya. Namun, ada hal yang
sedikit mengecewakan. Pada halaman balik sampul, turut dicetak endorsement dari berbagai media dan penulis berbagai negara yang tak lain dan tak bukan ditujukan untuk Laskar Pelangi, bukan Ayah.
Tentu saja ini membuat saya mengerutkan dahi, sebab, timbul prasangka
buruk dalam kepala saya bahwa apakah Andrea Hirata cukup takut novelnya
ini akan kurang populer jika tidak didongkrak dengan hal tersebut. Apa
perlu menuliskan testimoni keberhasilan Laskar Pelangi di luar negeri sebagai bumbu penyedap agar novel ini dibeli? Toh, saya pikir tanpa itu pun Andrea sudah memiliki pembacanya sendiri. Tapi, ya sudah lah. Tak apa. Bukan dosa juga, kok.
Novel ini rampung saya baca dalam waktu semalam. Masih terasa sekali
bau-bau melayu dari dialog dan narasi yang ada. Bercerita tentang
seorang berhati mulia nan lugu bernama Sabari yang jatuh cinta pada
seorang gadis yang tak pernah sudi menyentuh sedikit saja rasa cintanya,
dan gadis itu bernama Marlena. Tentang seorang yang amat teguh untuk
cinta pada seorang gadis saja. Sabari sempat menikah dengan Marlena
karena suatu insiden. Hanya empat hari kebersamaan mereka selama
pernikahannya, Marlena lari entah kemana meninggalkan Sabari dan
puteranya dirumah yang kelak dinamai oleh Sabari dengan nama Zorro.
Marlena yang sifatnya amat keras kepala dan berprinsip, akhirnya mencari
kehidupannya sendiri setelah tak lagi ditegur-sapa oleh ayahnya.
Sebelum ia berkelana lebih jauh, akhirnya Marlena menjatuhkan gugat
cerai dan mengancam akan mengambil kembali anaknya dari Sabari. Dan
akhirnya semua itu terjadi. Sabari amat terjatuh. Terlebih lagi saat
Sabari kehilangan Zorro yang telah ia rawat dengan kasih sayang sejak
lahir hampir tiga tahun lamanya. Di luar sana, Marlena berkelana ke
berbagai provinsi di sumatera dan menikah berkali-kali dengan bermacam
pria. Inilah yang membuat Zorro merasakan bagaimana diasuh oleh bermacam
Ayah pula hingga ayah terkahirnya yang bernama Amirza. Sementara nun
jauh disana, Sabari menggelandang hampir terkena gangguan jiwa lantaran
tak tahan berpisah dengan anak yang paling cintainya itu.
Tentang ending, bagi pembaca awam mungkin akan terkejut dengan
endingnya. Tapi, untuk yang telah sering membaca buku cerita seperti
novel dan lainnya, endingnya cukup mudah ditebak. Tokoh di awal-awal
cerita dimunculkan namun hilang entah kemana pada tengah hingga jelang
akhir cerita.
Saya rasa novel ini cukup bagus. Terlebih cerita dalam novel ini dibagi
dalam bab yang pendek-pendek, sehingga nyaman untuk dicicil pembacaannya
bagi yang sibuk kesehariannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar