Minggu, 27 Maret 2016

Hom-Pim-Pah!

Sore-sore, suara cicit pematok padi semakin berbunyi bahkan lebih luas dari suara bising kaleng orang-orangan sawah yang digoyangkan nenek tua.

Oleh anak-anak, hitam dan putih menjadi nasib meski tidak pekat. Lambaian tangan menjadi salam singgah untuk melompat-lompat, berlari, dan berteriak sekedar untuk berdarah, yang ternyata darahnya serupa tawa untuk mencela permainan apa yang besok tiba.

Pulanglah! Sebab lonceng gereja telah berdentang menyapu darah.
Hom-pim-pah! Yang duluan pulang adalah si nenek tua.


Lubuk buaya, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar