Rabu, 18 Mei 2016

Hanya Mengutip Kata

"Kita menutup mata saat bermimpi, mengkhayal, berimajinasi, berangan-angan. Tahu kenapa? Karena memang semua hal yang indah di dunia memang tidak terlihat."
-- Anonim --

"Berilah ia ikan, maka kau telah memberikannya makan untuk satu hari. Ajarilah ia cara memancing, maka kau telah memberikannya makan seumur hidup."
-- Lao Tzu --

Kamis, 12 Mei 2016

Tuhan Telah Mati

Aku menyaksikan tuhan telah mati

ia tak lagi meliputi seluruh keadaan
pertanda-nya kian jauh akan menjadi kosa kata yang langka
oleh sebab tertutup rapi, dalam mata, sebuah sosok persona
nun jauh disana
Ia telah mati dalam ba-ha-sa yang memisau. Tajam.

Aku menyaksikan tuhan telah mati

tuhan telah mati dalam doa bersama jelang UN
juga dalam taruh-bertaruh para calon sarjana, dan mereka
menerima untuk lupa, ditinggal norma
yang penting masuk sekolah ternama ataupun IPK diatas tiga
Adakah yang lupa dengan yang mahabaik, ketika
tengah dinaung ujian semester ataupun ujian akhir yang amat pelik?

Aku menyaksikan tuhan telah mati

tuhan telah dimatikan dalam diri para manusia sibuk
oh sekiranya barzah adalah rumah paling tak laku
dalam idam-idam para anti-suntuk.
Terlupakah ia, bahwa "ia" adalah maha pencemburu?
ia tak suka membandingkan gaji, dengan diri-nya
          --yang maha memberi rezki

Aku menyaksikan...

Aku menyaksikan tuhan telah mati!
tuhan telah mati, dan kita semua yang telah membunuh-nya.



2016
catt: karena sajak ini, jangan anggap saya atheis ataupun murtad


Mesin Waktu

Sekiranya, aku pikir, alangkah banyak orang yang terperangkap pada jerat penyesalan sehingga muncul saja keinginannya untuk kembali kepada masa lalu untuk mengubahnya. Bagiku cukup manusiawi jika ada yang sampai berpikir demikian. Tapi, adakah sesuatu hal yang dapat mengembalikan kita ke masa lalu? Jawabannya ada. Sebuah alat yang amat populer diperbincangkan namun tak pernah ada sampai sekarang: Mesin Waktu

Begitupun denganku, aku pun sempat berpikir ingin kembali ke masa lalu. Namun, seandainya boleh untukku memamerkan pertanyaan serta jawabanku, perkenankanlah.

Jika sekiranya memang ada mesin waktu, maka apa yang akan kauubah di masa lalu? Dan aku akan menjawab: Tidak ada!

Aku memang ingin kembali ke masa lalu, tapi tak satupun yang akan kuubah dari masa yang telah lalu itu. Karena kupikir, apa yang telah membuatku bisa menjadi seperti ini? Dengan dada yang penuh dengan pengalaman seperti ini? Semua pencapaian diri? Itu semua karena seluruh hal yang telah aku alami di masa lalu. Dan aku akan mengubah masa lalu berharap akan mengubah masa depan pula? Bzz... Aku pikir disitulah sebuah titik dimana hidup jadi tak menyenangkan. Bukankah sebaik-baik guru adalah pengalaman? Dan kau ingin membunuh gurumu? Murid macam apa kau? Hahaha...

Aku rindu, dan ingin kembali ke masa lalu. Ada beberapa potret masa lalu yang telah aku lupakan, dan aku ingin mengingatnya kembali, sebab rindu ini kadang tak terperi. Ingin sekali melihat temanku dengan usia anak-anaknya. Aku ingin kembali bermain dengan mereka sebagai anak-anak desa. Bermain, kemudian menangis, lalu tertawa, berkelahi, kemudian berdamai kembali. Kemudian merasakan yang namanya cinta pertama dan tidak lupa juga cinta monyet. Pertama kali belajar menyetir, belajar ini dan itu. Merasakah patah kemudian bangun lagi. Rasa-rasanya perasaan ini absurd sekali bahkan untuk dituangkan dalam cawan puisi. Nostalgia memang selalu menyenangkan.

Sabtu, 07 Mei 2016

Untuk Penggiat Kampus

Masih terniang-niang dalam pikiran tentang anekdot yang amat populer di kalangan akademika yang muncul ketika mengingat peristiwa tahun 1998:

Mahasiswa takut sama Dosen --> Dosen takut sama Dekan --> Dekan takut sama Rektor --> Rektor takut sama Menteri --> Menteri takut sama Presiden --> Presiden takut sama Mahasiswa.


Sepertinya kebanyakan kampus dewasa ini hanya akan menciptakan para mesin sesuai blueprint yang direncanakan, bukan menciptakan manusia. Kegiatan akademik semakin diperketat membabibuta menutupi kegiatan kemahasiswaan. Semakin berbondong-bondong orang-orang bilang bahwa attitude lebih berharga dibanding skill, namun sepertinya ini hanya akan menjadi utopia bagi mereka yang tengah menjalani pendidikan tingkat perguruan tinggi.

Tan Malaka pernah mengatakan pula bahwa idealisme adalah hal paling berharga yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemuda (a.k.a Mahasiswa). Namun, kenyataannya saat ini kaum tersebut semakin digiring untuk menjadi sosok realistis yang malah terbentuk menjadi apatis. Membuat kegiatan atau aksi pergerakan semakin tertekan. Nyaris hilang.

Hanya mementingkan nilai A atau B, tanpa mengasah softskill yang seperti diumbar-umbar.

“Hari ini rezim tak perlu militer untuk menjinakkan perlawanan dari kampus, cukup mengetatkan waktu studi dan sederet peraturan akademis cemen untuk merubah mahasiswa menjadi kambing. Aktivisme politik mereka hari ini paling banter menjadi cunguk elit para alumnus/senior mereka yang bertebaran jadi pedagang politik di luar sana.” -- Morgue Vanguard (Ucok Homicide).