Minggu, 27 Maret 2016

Novel: Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya

Judul: Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2013
Tebal: 240 Halaman

Sinopsis:

Ada surat panjang yang terlambat sampai. Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan.
*
Sejak kecil kita berdua merasa diri kita adalah alien-alien yang tersesat ke Bumi.

Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu sampai di beranda rumah.

Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan kulakukan.

 Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.

Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu.

Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya
*
Surat-surat itu menarik pria itu ke masa lalu. 
Hingga ia tahu, semuanya sudah terlambat.

------------

Inilah buku yang memutarbelokkan niat saya untuk mencari buku puisi di Toko Buku Gramedia. Bukan, bukan karena label prestasi buku yang memenangkan sayembara dari DKJ, melainkan judulnya yang cukup panjang untuk ukuran judul novel. Terlebih lagi, ketika saya menelusuri tentang penuisnya melalui google sebelum membawa ini ke kasir, buku ini ditulis oleh seorang wanita yang masih muda. Yang berarti beliau masih berusia sekitar 22 tahunan ketika menjuarai sayembara ini, masuk dalam 5 besar nominasi Khatulistiwa Literary Award pula. Pujian dari saya untuknya.

Seorang gadis yang "menggadis" di usianya yang hampir empat puluh tahun, masih menaruh rasa cinta yang amat mendalam kepada teman masa kecilnya. Hidup agak urakan, berpegang teguh pada idealismenya, hingga jelang akhir hidupnya tak ada seorang lelaki pun yang tak ia pikirkan walau sehari selain dia, teman masa kecilnya, Si Tuan Alien--begitulah ia memanggilnya. Dia terkurung dalam lingkar kehidupan yang dia anggap amat membosankan. Memiliki prestasi akademik yang gemilang di kampus namun ia sama sekali tak menemukan kehidupan dalam dirinya sendiri. Semua itu mulai dirasakan sejak perpisahannya dengan seorang lelaki yang amat dicintainya itu. Tak ada lagi komunikasi antaranya dan dia, sehingga ia memilih untuk menulis surat dari tahun 2008 hingga 2011. Dalam surat itu ia bicara. Mulanya tentang nostalgia mereka berdua, sampai pada pengalaman dan apa yang terjadi pada pribadinya, hingga tentang sakit keras yang mungkin membuatnya menghitung mundur sisa harinya.

Setidaknya begitulah (amat) ringkas dari isi novel tersebut. Novel ini dibuka dengan adegan dalam mimpi, dan ditutup dengan akhiran yang menggantung. Uniknya, karena cerita disampaikan dengan format 'surat', anda jangan harap untuk menemukan dialog langsung dalam novel ini.

Keunikan lain dalam novel yang ditulis oleh perempuan berkelahiran tahun 1991 ini, sama sekali tidak ditemukan nama-nama tokoh, bahkan tokoh utamanya sendiri. Hanya atribusi-atribusi yang ditemukan: Aku, Tuan Alien, Tuan Pemilik Toko, Gadis Berliontin Naga, Pacarku, Nyonya Pemred, dan lain-lain. Saya sendiri tidak tahu apa motif Dewi Kharisma M untuk tidak menuliskan nama tokoh. Namun menurut saya, inilah yang menjadi suatu keunikan tersendiri bagi saya.

Dari segi pemilihan diksi, dinilai (mungkin) tidaklah ringan. Mungkin ini adalah faktor dari penulis sendiri yang menciptakan tokoh utama dengan latar belakang seorang jurnalis, sehingga untuk kasus ini, hal tersebut cukup menjadi salah satu alasan jikalau novel ini rawan untuk membuat pembaca jatuh bosan, ditambah lagi dengan tempo alur yang lambat. Dan untuk orang seusia Dewi, narasi yang mengandung vulgarisme cukup ... ya ditemukan dalam novel ini. Penulis memang cukup berani dalam menuliskan narasi yang cukup sebegitu dewasanya. Berpaling dari hal demikian, dalam tulisannya di novel ini, dapat diterka bahwa tipe pola pikir si penulis adalah kritis dan memiliki pemikiran yang cukup mendalam.

Oh iya, dalam blog pribadinya dia mengatakan, bahwa dia mengerjakan novel yang akhirnya memenangkan sayembara DKJ dan 5 besar nominasi dalam KLA ini hanya dalam kurun waktu tak lebih dari 18 hari. Fantastis!

Bangkai Surat

Akhirnya aku menyentuh kaca
dengan mata berkaca-kaca

Melihat kerut dahi
menyentuh tangan sendiri

Sunyi, kamarku terlalu rapi
berdebu, tak begitu harum

Dan sepiku bertayamum

“Cinta, aku ingin pulang
sekedar bertukar tanya:
masihkah kaupeduli
atas kabarku?”


(Lubuk buaya, 2015)

Hom-Pim-Pah!

Sore-sore, suara cicit pematok padi semakin berbunyi bahkan lebih luas dari suara bising kaleng orang-orangan sawah yang digoyangkan nenek tua.

Oleh anak-anak, hitam dan putih menjadi nasib meski tidak pekat. Lambaian tangan menjadi salam singgah untuk melompat-lompat, berlari, dan berteriak sekedar untuk berdarah, yang ternyata darahnya serupa tawa untuk mencela permainan apa yang besok tiba.

Pulanglah! Sebab lonceng gereja telah berdentang menyapu darah.
Hom-pim-pah! Yang duluan pulang adalah si nenek tua.


Lubuk buaya, 2015

Novel: Ayah

Judul : Ayah
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit : Mei 2015
Tebal : 412 halaman + xx
Sinopsis :
"Betapa Sabari menyayangi Zorro. Ingin dia memeluknya sepanjang waktu. Dia terpesona melihat makhluk kecil yang sangat indah dan seluruh kebaikan yang terpancar darinya.
Diciuminya anak itu dari kepala sampai ke jari-jemari kakinya yang mungil. Kalau malam Sabari susah susah tidur lantaran membayangkan bermacam rencana yang akan dia lalui dengan anaknya jika besar nanti.
Dia ingin mengajaknya melihat pawai 17 Agustus, mengunjungi pasar malam, membelikannya mainan, menggandengnya ke masjid, mengajarinya berpuasa dan mengaji, dan memboncengnya naik sepeda saban sore ke taman kota."
------------
Novelis yang penghasilan satu judul bukunya bisa membuat orang tak berkedip, kini kembali menuliskan sesuatu untuk dibaca masyarakat luas, Andrea Hirata. Setelah melejit sukses dengan tetralogi Laskar Pelangi, Novel yang berjudul Ayah ini dapat sudah dapat dinikmati setiap katanya. Dan latar tempat di Belitong kembali dimunculkan dalam novel terbarunya ini.
 
Novel yang cukup bagus dari penilaian objektif saya. Namun, ada hal yang sedikit mengecewakan. Pada halaman balik sampul, turut dicetak endorsement dari berbagai media dan penulis berbagai negara yang tak lain dan tak bukan ditujukan untuk Laskar Pelangi, bukan Ayah. Tentu saja ini membuat saya mengerutkan dahi, sebab, timbul prasangka buruk dalam kepala saya bahwa apakah Andrea Hirata cukup takut novelnya ini akan kurang populer jika tidak didongkrak dengan hal tersebut. Apa perlu menuliskan testimoni keberhasilan Laskar Pelangi di luar negeri sebagai bumbu penyedap agar novel ini dibeli? Toh, saya pikir tanpa itu pun Andrea sudah memiliki pembacanya sendiri. Tapi, ya sudah lah. Tak apa. Bukan dosa juga, kok.
 
Novel ini rampung saya baca dalam waktu semalam. Masih terasa sekali bau-bau melayu dari dialog dan narasi yang ada. Bercerita tentang seorang berhati mulia nan lugu bernama Sabari yang jatuh cinta pada seorang gadis yang tak pernah sudi menyentuh sedikit saja rasa cintanya, dan gadis itu bernama Marlena. Tentang seorang yang amat teguh untuk cinta pada seorang gadis saja. Sabari sempat menikah dengan Marlena karena suatu insiden. Hanya empat hari kebersamaan mereka selama pernikahannya, Marlena lari entah kemana meninggalkan Sabari dan puteranya dirumah yang kelak dinamai oleh Sabari dengan nama Zorro.
 
Marlena yang sifatnya amat keras kepala dan berprinsip, akhirnya mencari kehidupannya sendiri setelah tak lagi ditegur-sapa oleh ayahnya. Sebelum ia berkelana lebih jauh, akhirnya Marlena menjatuhkan gugat cerai dan mengancam akan mengambil kembali anaknya dari Sabari. Dan akhirnya semua itu terjadi. Sabari amat terjatuh. Terlebih lagi saat Sabari kehilangan Zorro yang telah ia rawat dengan kasih sayang sejak lahir hampir tiga tahun lamanya. Di luar sana, Marlena berkelana ke berbagai provinsi di sumatera dan menikah berkali-kali dengan bermacam pria. Inilah yang membuat Zorro merasakan bagaimana diasuh oleh bermacam Ayah pula hingga ayah terkahirnya yang bernama Amirza. Sementara nun jauh disana, Sabari menggelandang hampir terkena gangguan jiwa lantaran tak tahan berpisah dengan anak yang paling cintainya itu.
 
Tentang ending, bagi pembaca awam mungkin akan terkejut dengan endingnya. Tapi, untuk yang telah sering membaca buku cerita seperti novel dan lainnya, endingnya cukup mudah ditebak. Tokoh di awal-awal cerita dimunculkan namun hilang entah kemana pada tengah hingga jelang akhir cerita.
 
Saya rasa novel ini cukup bagus. Terlebih cerita dalam novel ini dibagi dalam bab yang pendek-pendek, sehingga nyaman untuk dicicil pembacaannya bagi yang sibuk kesehariannya.