Jumat, 15 April 2016

Memampukan Mimpi!

Salam!

Saya disini tidak akan berolok-olok dengan mengatakan bahwa mimpi itu adalah harta yang sangat penting. Berlebihan? Baiklah, saya akan menyebutnya sebagai anugerah semesta. Masih berlebihan? Saya tidak tahu lagi harus menyebut apa. Masing-masing kita pasti akan berbeda pandangan dalam melihat mimpi atau mari kita sebut saja sebagai ‘impian’. Tapi, berani saya jamin, dan tanpa paksaan, kita harus sepakat bahwa masing-masing diri kita pernah mempunyai sebuah mimpi, bukan? Ya. Untuk itulah kita disebut sebagai manusia. Manusia selalu menggantungkan mimpinya, untuk dipetik dikemudian hari.

Pertanyaannya sekarang, sampai seberapa sanggupkah kita dapat memetik mimpi yang masih tergantung itu?

Baiklah. Mungkin sebagian dari kita ada yang tahu bagaimana rasanya hati yang terkurung, terkekang dirinya oleh impian orang lain di sekitarnya, kemudian mengejar impian adalah seperti berjalan di labirin panjang. Adakah orang seperti itu? Ada. Maaf dengan frontal saya menyebut, itulah orang yang cita-citanya tidak ditanam oleh dirinya, melainkan dipaksa keluarga. Yang seperti ini biasanya adalah mereka yang dipaksa untuk menjadi orang lain. Tapi, ini bukanlah hasutan dari saya bahwa orang tua adalah sosok yang mesti dilawan. Mereka juga manusia. Kecuali jika mereka tidak punya perasaan yang manusiawi. Pada kasus ini, biasanya mereka takut sekali untuk meyakinkan orangtuanya karena berbagai kondisi dan hal. Semisal, seorang anak yang sangat tekun dan mahir di bidang Sains malah dipaksa oleh orangtuanya menjadi Bussinesman yang kebetulan orangtuanya adalah Pemilik sebuah perusahaan. Atau sebaliknya. Tidak hanya orangtua. Berani saya katakan, kalangan guru di sekolah pun kebanyakan (berarti tidak semua) juga begitu. Bahkan menyuruh muridnya untuk memilih zona aman ketimbang mengambil resiko demi meraih impian-impian yang sudah tersusun rapi di kepala mereka.

Dalam sebuah novel tulisan J.S. Khairen yang berjudul “Bunda Lisa” yang merupakan sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata, disana terselip kisah tentang Bunda Lisa itu sendiri yang hendak menyekolahkan anaknya ke TK di Amerika, tepatnya di Illionis. TK tersebut bernama CDL (Child Development Laboratory) yang dikelola langsung oleh Universitas Illionis. Singkatnya, dalam novel tersebut, seorang guru dalam TK tersebut tidak mengarahkan anak muridnya untuk pintar dalam pengetahuan umum. Itu adalah prioritas keduanya. Prioritas pertamanya adalah memberi ‘peta’ dan ‘senter’ kepada anak-anak tersebut untuk menemukan dimana bakat dan keahliannya. Bahkan yang menjadi guru bagi anak-anak TK tersebut adalah para Professor. Dalam novel ini, amat kentara sekali perbedaan antara orangtua dan anak dari segi latar belakang pendidikannya. Suami Bunda Lisa adalah seorang Professor bidang ekonomi. Anaknya? Anak-anak mereka justeru memilih jalannya sebagai seniman. Dan mereka sukses. Mereka dibayar atas apa yang mereka senangi. Orang-orang bilang itulah pekerjaan yang terbaik: Hobi yang dibayar.

Duhai jiwa yang letih
yang masih berjalan kaki, tersesat di rimba langkah kaki
Engkau yang tadi menjinjing tikar mimpi
Engkau berlari sebab sebuah tikar mimpi dibawa lari.
O, beranikanlah diri.

Oke, mungkin masalah orangtua selesai. Sekarang yang menjadi permasalahan adalah: Keuangan. Mereka yang hidup sebagai orang yang tidak berkecukupan. Ada juga sebagian mereka yang terpaksa mengubur impiannya karena impian tersebut dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Contohnya saja menjadi pemain bola. Saya jadi ingin bertanya kepada kawan-kawan pembaca sekalian, sudahkan kalian temui orangtua yang dengan senang hati tanpa menggerutu merelakan anaknya mengejar impian menjadi pemain bola? Saya bertanya demikian sebab saya tidak menemukannya. Semoga kawan-kawan pembaca sudah ada yang menemukannya.

Abdurrahim Arsyad dalam stand up comedy-nya pernah bilang bahwa hampir mustahil untuk negara kita, negara Indonesia, untuk ikut serta dalam ajang Piala Dunia. Sampai-sampai muncul anekdot darinya “Indonesia baru bisa masuk Piala Dunia kalau Kura-kura sudah bisa manjat pohon” atau yang lebih parahnya lagi dia juga beranekdot “atau indonesia baru bisa masuk piala dunia jika sudah ada komodo yang jadi astronot. Kemudian demi hal itu, PSSI mulai melatih Komodo untuk dikirim ke NASA.”

Masih banyak penduduk miskin di negara ini. Kemiskinan membuat mereka membunuh mimpi. Sampai-sampai masih dalam stand up comedy-nya Abdur pernah berpengalaman bahwa ketika dirinya bertanya kepada anak-anak desa tentang apa cita-citanya ketika sudah besar ini, kebanyakan diantara mereka malah menjawab bahwa mereka tidak ingin muluk-muluk, mereka ingin menjadi petani atau nelayan saja seperti orangtuanya. Dan pada akhirnya, sekejam apa negara kita sampai anak sekecil itu saja tidak berani untuk bermimpi? Sekejam apa?

Duhai jiwa yang dikepung keadaan
sampaikanlah pada pelita di meja belajar
pada rumput pijakan di tanah lapang yang lebar
bahwa sekiranya
Langit pun bermuram durja, melihat anak-anak yang menikmati hujannya
Tak lagi bernafsu membuat khayalan menjelma nyata.

Kejarlah mimpimu, kawan. Tebas zona nyaman! Saya disini bukanlah dan memang tidak ingin sok pintar bahkan menjadi motivator ulung bagi kawan-kawan pembaca sekalian. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa alangkah indah hidup jika kita berpijak, tidur, mandi, sampai makan dari hasil keringat kita bersama mimpi kita sendiri. Perjuangkanlah mimpi. Jangan menjadi sekedar hiasan dalam khayalan. Beranilah untuk terluka. Raihlah! Sebab Seno Gumira Ajidarma pernah berkata pula bahwa Seberapa indahkah mimpi, jika tetap mimpi?

Jujur saya disini adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum di salah satu universitas ternama di Sumatera, dan malahan ingin menjadi seorang penulis. Penulis di bidang sastra pula, bukan penulis literatur hukum. Tapi, saya tetap berusaha sajalah. Tidak ada kata terlambat. Sebab saya mengambil satu kutipan yang telah saya aminkan bahwa saya tidak pernah takut jika esok hari saya gagal meraih impian saya, justeru yang saya takutkan adalah impian itu sudah tumbuh subur di kepala saya dan saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk berusaha meraihnya.

Teruslah gumamkan impianmu. Ajak dia kedunia nyatamu. Terus gumamkan sebab, impian = doa.

Tinggalkan kesedihanmu, bawalah semangatmu! Tinggalkan kepasrahanmu, seret keberanianmu! Mimpi akan menyihirmu menjadi mampu. Mimpi akan membawamu jauh. Dia akan mengajarkan arti sebuah “rumah” yang kan terasa indah di kala raga ini menjauh.

Sekian tulisan saya. Maaf jika terkesan sok tahu.

Salam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar