"Aku ingin melihatkanmu puisi, yang tintanya
berwarna merah muda, untuk aku tunjukkan
pada bakal kekasih,”
bagimu: puisi menuai kata mesra
bagiku: puisi menuai dunia
“Aku ingin belajar menulis puisi, agar besok
bisa kudapatkan satu kalung bunga saja,
selingkar saja.”
Sebelum tinta milik abang terus diperam
ingin sekali aku melihatmu menangis
tanpa mata yang perih
ingin sekali aku melihatmu tertawa
tanpa rahang yang nyeri
ingin sekali aku melihatmu melihatr
tanpa mata yang sepi
Dan, kau kulihat-lihat, semakin dekat, mengikis sekat,
mendustai batin dan perasaan adalah perkara gamblang.
“aku sedang ingin menjadi penyair,” katamu
“kau sedang ingin menjadi penggombal,” kataku
Lubuk buaya, 2015
Jumat, 15 April 2016
Sepilihan Sabda
Saya termasuk orang yang akan mengatakan “Iya!” apabila ada yang mengatakan bahwa saat ini Malaikat Jibril masih bekerja dan tidak berhenti ketika habis masa kenabian. Sebab Jibril tidak hanya menyampaikan wahyu, melainkan juga inspirasi (ide) bahkan hidayah.
Begitu banyak manusia. Maka, tidak perlu jauh-jauh untuk mengambil sepatah dua patah kata untuk kita jadikan panutan dalam hidup. Sebab, masih ada kemungkinan tertimbun emas di dalam tanah busuk. Berikut ini adalah kata-kata yang pernah diucapkan oleh orang-orang yang pernah saya temui, dan saya mengambil pelajaran dari yang terucap olehnya.
----------------------------------------------------
Bu Lian (Guru SD saya)
“Sesombong-sombongnya orang pintar adalah mereka yang tidak pernah mau belajar dari yang dibawahnya.”
Bima (Teman SMA)
“Hidup ini jangan dibawa repot. Lepaskan saja! Biar ugal, yang penting tidak kurang ajar.”
Pak Zulkarnaini (Kepala sekolah waktu SMP)
“Jangan sampai karena demi kegiatan sekolah, ananda menjadi durhaka pada orangtua.”
Bang Ian (Senior di kampus)
“Di dunia ini tidak ada yang namanya orang baik, karena kita semua sedang menuju kesana.”
Yunus (Teman SMA)
“Jangan takut! Karena cuma orang idiot yang berani mencaci-caci karya seni.”
Bang Fadil (Senior di kampus)
“Kita boleh merasa hebat, tapi jangan sampai meremehkan tanggungjawab.”
Pak Pinto (Tetangga rumah)
“Kau itu sudah terlahir sebagai orang hebat, sekarang tinggal bagaimana kau menunjukkannya.”
Bang Cahyo (Senior di kampus)
“Jika bercarut-marut bisa menenangkan diri yang sedang panas, maka bercarut saja!”
Bu Tio (Guru SD saya)
“Sampai jumpa! Kita akan ketemu lagi saat kalian semua menemui ibu dengan pakaian berdasi yang rapi.”
Bu Mardiati (Guru SMP saya)
“Jangan sekali-kali anda membunuh karakter orang dihadapan saya!”
Bang Galih (Kakak kelas SMP)
“Hati senang ketika rokok sudah di tangan.”
Sukir (Kenalan saat Festamasio 7)
“Aku benci sekali ketika temanku menyerah. Jadinya aku kehilangan kesempatan untuk menjadi temannya orang hebat.”
Randhika (Teman SMA)
“Omong kosong paling besar yang saya dengar adalah tentang tidak semua hal bisa dibeli dengan uang.”
Bu Net (Dosen di kampus)
“Ibu baru bisa mengatakan mahasiswa itu cerdas ketika ia aktif bukan cuma di kelas saja, melainkan juga di organisasi.”
Bang Angga (Senior di kampus)
“Orang yang hatinya keras, memiliki pribadi yang keras pula, biasanya menyimpan kesedihan yang mendalam.”
Ari (Teman SMA)
“Jika ada orang yang mengatai saya dengan sebutan ‘binatang’, setidaknya saya lebih mulia dari dia yang seenaknya saja menyebut anak orang dengan sebutan ‘binatang’.”
Almarhum Papa (Sahabat pertama saya dalam hidup)
“Nanti kalau Agung sudah besar, kita beli tanah pakai uang kita berdua, terus kita bikin pondok disana.”
Almarhumah Mama (Cinta pertama saya dalam hidup)
“Jadilah orang ya, nak. Mama tidak menyangka kamu sudah mama besarkan sampai sekarang ini.”
Dan masih banyak lagi. Namun, untuk sementara waktu, inilah yang bisa saya tuliskan terlebih dahulu. Sebab, kalimat-kalimat inilah yang paling saya ingat sampai sekarang. Terimakasih untuk mereka, bersyukur sekali saya bisa sempat berkenalan dengan kalian.
Pulang Kepada Diri
Sejak lahir dari harap-harap cemas ibu
kita tidak pernah diajar bagaimana mengendus nasib
barangkali belum.
Sebab, sejak tangan ibu masih lihai meranumkan hidangan
tidak semua kumakan, tidak semua kutelan;
kecuali yang ada di air mata, pada darahnya.
Sebab, keluar rumah bukan untuk memakai lidah ibu
sebab, keluar rumah bukan untuk kembali melihat bekas jari ibu
sebab, keluar rumah adalah untuk esok pulang menemui ibu
Pandai diajari:
dicerca
Pandai sendiri:
terluka
Sebab, sebelum tersasar
ternyata kita sudah besar.
Lubuk buaya, 2015
kita tidak pernah diajar bagaimana mengendus nasib
barangkali belum.
Sebab, sejak tangan ibu masih lihai meranumkan hidangan
tidak semua kumakan, tidak semua kutelan;
kecuali yang ada di air mata, pada darahnya.
Sebab, keluar rumah bukan untuk memakai lidah ibu
sebab, keluar rumah bukan untuk kembali melihat bekas jari ibu
sebab, keluar rumah adalah untuk esok pulang menemui ibu
Pandai diajari:
dicerca
Pandai sendiri:
terluka
Sebab, sebelum tersasar
ternyata kita sudah besar.
Lubuk buaya, 2015
Memampukan Mimpi!
Salam!
Saya disini tidak akan berolok-olok dengan mengatakan bahwa mimpi itu adalah harta yang sangat penting. Berlebihan? Baiklah, saya akan menyebutnya sebagai anugerah semesta. Masih berlebihan? Saya tidak tahu lagi harus menyebut apa. Masing-masing kita pasti akan berbeda pandangan dalam melihat mimpi atau mari kita sebut saja sebagai ‘impian’. Tapi, berani saya jamin, dan tanpa paksaan, kita harus sepakat bahwa masing-masing diri kita pernah mempunyai sebuah mimpi, bukan? Ya. Untuk itulah kita disebut sebagai manusia. Manusia selalu menggantungkan mimpinya, untuk dipetik dikemudian hari.
Pertanyaannya sekarang, sampai seberapa sanggupkah kita dapat memetik mimpi yang masih tergantung itu?
Baiklah. Mungkin sebagian dari kita ada yang tahu bagaimana rasanya hati yang terkurung, terkekang dirinya oleh impian orang lain di sekitarnya, kemudian mengejar impian adalah seperti berjalan di labirin panjang. Adakah orang seperti itu? Ada. Maaf dengan frontal saya menyebut, itulah orang yang cita-citanya tidak ditanam oleh dirinya, melainkan dipaksa keluarga. Yang seperti ini biasanya adalah mereka yang dipaksa untuk menjadi orang lain. Tapi, ini bukanlah hasutan dari saya bahwa orang tua adalah sosok yang mesti dilawan. Mereka juga manusia. Kecuali jika mereka tidak punya perasaan yang manusiawi. Pada kasus ini, biasanya mereka takut sekali untuk meyakinkan orangtuanya karena berbagai kondisi dan hal. Semisal, seorang anak yang sangat tekun dan mahir di bidang Sains malah dipaksa oleh orangtuanya menjadi Bussinesman yang kebetulan orangtuanya adalah Pemilik sebuah perusahaan. Atau sebaliknya. Tidak hanya orangtua. Berani saya katakan, kalangan guru di sekolah pun kebanyakan (berarti tidak semua) juga begitu. Bahkan menyuruh muridnya untuk memilih zona aman ketimbang mengambil resiko demi meraih impian-impian yang sudah tersusun rapi di kepala mereka.
Dalam sebuah novel tulisan J.S. Khairen yang berjudul “Bunda Lisa” yang merupakan sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata, disana terselip kisah tentang Bunda Lisa itu sendiri yang hendak menyekolahkan anaknya ke TK di Amerika, tepatnya di Illionis. TK tersebut bernama CDL (Child Development Laboratory) yang dikelola langsung oleh Universitas Illionis. Singkatnya, dalam novel tersebut, seorang guru dalam TK tersebut tidak mengarahkan anak muridnya untuk pintar dalam pengetahuan umum. Itu adalah prioritas keduanya. Prioritas pertamanya adalah memberi ‘peta’ dan ‘senter’ kepada anak-anak tersebut untuk menemukan dimana bakat dan keahliannya. Bahkan yang menjadi guru bagi anak-anak TK tersebut adalah para Professor. Dalam novel ini, amat kentara sekali perbedaan antara orangtua dan anak dari segi latar belakang pendidikannya. Suami Bunda Lisa adalah seorang Professor bidang ekonomi. Anaknya? Anak-anak mereka justeru memilih jalannya sebagai seniman. Dan mereka sukses. Mereka dibayar atas apa yang mereka senangi. Orang-orang bilang itulah pekerjaan yang terbaik: Hobi yang dibayar.
Duhai jiwa yang letih
yang masih berjalan kaki, tersesat di rimba langkah kaki
Engkau yang tadi menjinjing tikar mimpi
Engkau berlari sebab sebuah tikar mimpi dibawa lari.
O, beranikanlah diri.
Oke, mungkin masalah orangtua selesai. Sekarang yang menjadi permasalahan adalah: Keuangan. Mereka yang hidup sebagai orang yang tidak berkecukupan. Ada juga sebagian mereka yang terpaksa mengubur impiannya karena impian tersebut dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Contohnya saja menjadi pemain bola. Saya jadi ingin bertanya kepada kawan-kawan pembaca sekalian, sudahkan kalian temui orangtua yang dengan senang hati tanpa menggerutu merelakan anaknya mengejar impian menjadi pemain bola? Saya bertanya demikian sebab saya tidak menemukannya. Semoga kawan-kawan pembaca sudah ada yang menemukannya.
Abdurrahim Arsyad dalam stand up comedy-nya pernah bilang bahwa hampir mustahil untuk negara kita, negara Indonesia, untuk ikut serta dalam ajang Piala Dunia. Sampai-sampai muncul anekdot darinya “Indonesia baru bisa masuk Piala Dunia kalau Kura-kura sudah bisa manjat pohon” atau yang lebih parahnya lagi dia juga beranekdot “atau indonesia baru bisa masuk piala dunia jika sudah ada komodo yang jadi astronot. Kemudian demi hal itu, PSSI mulai melatih Komodo untuk dikirim ke NASA.”
Masih banyak penduduk miskin di negara ini. Kemiskinan membuat mereka membunuh mimpi. Sampai-sampai masih dalam stand up comedy-nya Abdur pernah berpengalaman bahwa ketika dirinya bertanya kepada anak-anak desa tentang apa cita-citanya ketika sudah besar ini, kebanyakan diantara mereka malah menjawab bahwa mereka tidak ingin muluk-muluk, mereka ingin menjadi petani atau nelayan saja seperti orangtuanya. Dan pada akhirnya, sekejam apa negara kita sampai anak sekecil itu saja tidak berani untuk bermimpi? Sekejam apa?
Duhai jiwa yang dikepung keadaan
sampaikanlah pada pelita di meja belajar
pada rumput pijakan di tanah lapang yang lebar
bahwa sekiranya
Langit pun bermuram durja, melihat anak-anak yang menikmati hujannya
Tak lagi bernafsu membuat khayalan menjelma nyata.
Kejarlah mimpimu, kawan. Tebas zona nyaman! Saya disini bukanlah dan memang tidak ingin sok pintar bahkan menjadi motivator ulung bagi kawan-kawan pembaca sekalian. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa alangkah indah hidup jika kita berpijak, tidur, mandi, sampai makan dari hasil keringat kita bersama mimpi kita sendiri. Perjuangkanlah mimpi. Jangan menjadi sekedar hiasan dalam khayalan. Beranilah untuk terluka. Raihlah! Sebab Seno Gumira Ajidarma pernah berkata pula bahwa Seberapa indahkah mimpi, jika tetap mimpi?
Jujur saya disini adalah seorang mahasiswa Fakultas Hukum di salah satu universitas ternama di Sumatera, dan malahan ingin menjadi seorang penulis. Penulis di bidang sastra pula, bukan penulis literatur hukum. Tapi, saya tetap berusaha sajalah. Tidak ada kata terlambat. Sebab saya mengambil satu kutipan yang telah saya aminkan bahwa saya tidak pernah takut jika esok hari saya gagal meraih impian saya, justeru yang saya takutkan adalah impian itu sudah tumbuh subur di kepala saya dan saya tidak pernah memiliki kesempatan untuk berusaha meraihnya.
Teruslah gumamkan impianmu. Ajak dia kedunia nyatamu. Terus gumamkan sebab, impian = doa.
Tinggalkan kesedihanmu, bawalah semangatmu! Tinggalkan kepasrahanmu, seret keberanianmu! Mimpi akan menyihirmu menjadi mampu. Mimpi akan membawamu jauh. Dia akan mengajarkan arti sebuah “rumah” yang kan terasa indah di kala raga ini menjauh.
Sekian tulisan saya. Maaf jika terkesan sok tahu.
Salam!
Kamis, 14 April 2016
Melupakan
Hari ini sebungkus cerita yang berpita merah pulang ke lembah
menunggu sisa-sisa ampas kertas mati dirajam tanah
"O, sungai, berikanlah cerita sebelum maut merekah!"
2015
menunggu sisa-sisa ampas kertas mati dirajam tanah
"O, sungai, berikanlah cerita sebelum maut merekah!"
2015


