Sore-sore, suara cicit pematok padi semakin berbunyi bahkan lebih
luas dari suara bising kaleng orang-orangan sawah yang digoyangkan nenek
tua.
Oleh anak-anak, hitam dan putih menjadi nasib meski tidak pekat.
Lambaian tangan menjadi salam singgah untuk melompat-lompat, berlari,
dan berteriak sekedar untuk berdarah, yang ternyata darahnya serupa tawa
untuk mencela permainan apa yang besok tiba.
Pulanglah! Sebab lonceng gereja telah berdentang menyapu darah.
Hom-pim-pah! Yang duluan pulang adalah si nenek tua.
Lubuk buaya, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar