Judul: Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juni 2013
Tebal: 240 Halaman
Sinopsis:
Sinopsis:
Ada surat panjang yang terlambat sampai. Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan.
*
Sejak kecil kita berdua merasa diri kita adalah
alien-alien yang tersesat ke Bumi.
Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu sampai di beranda rumah.
Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu sampai di beranda rumah.
Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi.
Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat.
Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah
hal itu akan kulakukan.
Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.
Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.
Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama
bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah
kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di
usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk
mencari penggantimu.
Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya
*
Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya
*
Surat-surat itu menarik pria itu ke masa lalu.
Hingga ia tahu, semuanya sudah terlambat.
------------
Inilah buku yang memutarbelokkan niat saya untuk mencari buku puisi di
Toko Buku Gramedia. Bukan, bukan karena label prestasi buku yang
memenangkan sayembara dari DKJ, melainkan judulnya yang cukup panjang
untuk ukuran judul novel. Terlebih lagi, ketika saya menelusuri tentang
penuisnya melalui google sebelum membawa ini ke kasir, buku ini ditulis
oleh seorang wanita yang masih muda. Yang berarti beliau masih berusia
sekitar 22 tahunan ketika menjuarai sayembara ini, masuk dalam 5 besar
nominasi Khatulistiwa Literary Award pula. Pujian dari saya untuknya.
Seorang gadis yang "menggadis" di usianya yang hampir empat puluh tahun, masih menaruh rasa cinta yang amat mendalam kepada teman masa kecilnya. Hidup agak urakan, berpegang teguh pada idealismenya, hingga jelang akhir hidupnya tak ada seorang lelaki pun yang tak ia pikirkan walau sehari selain dia, teman masa kecilnya, Si Tuan Alien--begitulah ia memanggilnya. Dia terkurung dalam lingkar kehidupan yang dia anggap amat membosankan. Memiliki prestasi akademik yang gemilang di kampus namun ia sama sekali tak menemukan kehidupan dalam dirinya sendiri. Semua itu mulai dirasakan sejak perpisahannya dengan seorang lelaki yang amat dicintainya itu. Tak ada lagi komunikasi antaranya dan dia, sehingga ia memilih untuk menulis surat dari tahun 2008 hingga 2011. Dalam surat itu ia bicara. Mulanya tentang nostalgia mereka berdua, sampai pada pengalaman dan apa yang terjadi pada pribadinya, hingga tentang sakit keras yang mungkin membuatnya menghitung mundur sisa harinya.
Setidaknya begitulah (amat) ringkas dari isi novel tersebut. Novel ini dibuka dengan adegan dalam mimpi, dan ditutup dengan akhiran yang menggantung. Uniknya, karena cerita disampaikan dengan format 'surat', anda jangan harap untuk menemukan dialog langsung dalam novel ini.
Keunikan lain dalam novel yang ditulis oleh perempuan berkelahiran tahun 1991 ini, sama sekali tidak ditemukan nama-nama tokoh, bahkan tokoh utamanya sendiri. Hanya atribusi-atribusi yang ditemukan: Aku, Tuan Alien, Tuan Pemilik Toko, Gadis Berliontin Naga, Pacarku, Nyonya Pemred, dan lain-lain. Saya sendiri tidak tahu apa motif Dewi Kharisma M untuk tidak menuliskan nama tokoh. Namun menurut saya, inilah yang menjadi suatu keunikan tersendiri bagi saya.
Dari segi pemilihan diksi, dinilai (mungkin) tidaklah ringan. Mungkin ini adalah faktor dari penulis sendiri yang menciptakan tokoh utama dengan latar belakang seorang jurnalis, sehingga untuk kasus ini, hal tersebut cukup menjadi salah satu alasan jikalau novel ini rawan untuk membuat pembaca jatuh bosan, ditambah lagi dengan tempo alur yang lambat. Dan untuk orang seusia Dewi, narasi yang mengandung vulgarisme cukup ... ya ditemukan dalam novel ini. Penulis memang cukup berani dalam menuliskan narasi yang cukup sebegitu dewasanya. Berpaling dari hal demikian, dalam tulisannya di novel ini, dapat diterka bahwa tipe pola pikir si penulis adalah kritis dan memiliki pemikiran yang cukup mendalam.
Oh iya, dalam blog pribadinya dia mengatakan, bahwa dia mengerjakan novel yang akhirnya memenangkan sayembara DKJ dan 5 besar nominasi dalam KLA ini hanya dalam kurun waktu tak lebih dari 18 hari. Fantastis!
